HerE yOU Not OnLY gET hAVinG fuN BuT aLSo GEt KnoWLedGE
PERHATIAN
SELURUH CONTENT DI BLOG INI DAPAT MENYEBABKAN KETAGIHAN, SERANGAN KEBAHAGIAN, BERSENANG-SENANG DAN GANGGUAN TANGAN UNTUK MENG-KLIK DAN MENG-KLIK

Selasa, 28 September 2010

DUNIA PENDIDIKAN DI INDONESIA


Assalamualaikum Wr.Wb.

Kali ini saya akan membahas yang sedikit serius nih, yaitu problematika dunia pendidikan di Indonesia. Seperti kita tahu tujuan dari pendidikan adalah mencerdaskan anak-anak bangsa. Tapi melihat keadaannya sekarang begitu sangat memprihatinkan loh. Bisa dibilang sangat jauh dari tujuan suci negara ini. Sadar atau tidak, kita  juga merasakannya loh. Gak percaya...??? saya akan ambil contoh sederhana yaitu masalah UAN. Semua siswa pada tingkat akhir (dari kelas 6 SD, kelas 9 SMP, hingga kelas 12 SMA baik IPA atau IPS maupun SMK) akan bergidik ngeri kalau mendengar ini.

Jujur saja.. saya juga merasakan hal yang sama saat menjelang UAN (SMP ataupun SMA). Mereka semua begitu khawatir kalau-kalau tidak lulus, sebab tidak sebanding dengan waktu yang telah mereka habiskan. Coba bayangkan, nasib kita yang telah belajar selama 3 tahun (sedangkan bagi SD 6 tahun) ditentukan hanya dengan 3 atau 4 hari saja. Jika diadakan poling di kalangan siswa, saya yakin 100% pada nolak UAN alias mentiadakan UAN. Banyak faktor yang mendukung penolakan UAN dari infrastruktur hingga materi yang belum terlalu dikuasai. Menurut saya juga UAN tidak efektif sebagai standarisasi kelulusan siswa, sebab skill seseorang tidaklah sama satu dengan yang lain biarpun mereka kembar. Ups.. tidak hanya itu saja loh, ada juga yang berpendapat kalau UAN ini sama saja mendidik siswa untuk curang dan bahkan sadar atau tidak kita sama saja melahirkan penerus KKN.
Tuh liat deh gambar di atas... seorang siswi yang sedang asik mencontek ditengah-tengah ujian yang sedang berlangsung.
Dalam hal materi, siswa sering atau terkadang tidak paham tujuan atau kegunaan dari materi yang akan dipelajari atau yang telah dipelajari yang mereka tau hanya kerjakan soal dapat nilai dan selesai. Seandainya mereka semua tau filosofi, fungsi dan manfaat dari materi yang mereka pelajari, saya yakin semua siswa akan semangat dalam mempelajari materi itu walau itu sulit sekali pun.
Hal mendasar dalam permasalahan sekolah juga tidak bisa lepas dari sugesti yang beredar dilingkungan masyarakat. Selama ini sekolah hanya sebatas formalitas saja untuk membentuk SDM Indonesia. Seakan tidak peduli akan hasil belajarnya, mereka semua berpendapat jika telah "selesai" dari pendidikan di tingkat yang tinggi baru bisa disebut hebat tapi ini anggapan yang menjerumuskan. Seperti sebelumnya, saya menjelaskan kalau skill seseorang tidaklah sama, tapi lagi-lagi sugesti yang salah menjerumuskan. Krena inggin dianggap hebat, dia memasuki jurusan yang tidak dikuasainya. Dampaknya, untuk menyamakan point nilai dia menghalalkan segala cara. Padahal kalau mau memasuki jurusan yang dikuasainya mungkin saja dia bisa menjadi no.1 di jurusan tersebut.

Tidak hanya dari segi materi dan sugesti, infrastuktur juga tidak bisa dilepaskan dala kelangsungan KBM. Coba seandainya kelas yang digunakan dalam KBM seperti ini (lihat gambar disamping kanan). Saya sangat yakin kalau kita semua gak bakalan betah buat belajar. Tapi rasa sedihnya disimpan dulu. Yang tadi ruang kelas tempat siswa mencari ilmu, lalu gimana kalau ruang untuk gurunya seperti ini (lihat gambar disamping kiri). Gurunya mana ada yang bakal betah. Duh sungguh tidak layak yah. Kalau sudah luluh lantah seperti ini tindakan pemerintah sungguh sangat diharapakan. Bagaimana semuanya bisa nyaman dalam KBM baik dipihak gurunya ataupun siswanya. Lalu kita kembali lagi ke masalah UAN, apakah sekolah -sekolah seperti ini masih layak untuk mengikuti UAN??. Tidak hanya itu saja, mungkin menurut saya nih jika sekolah di seluruh Indonesia seperti ini (lihat gambar dibawah) mungkin baru bisa digalakkan UAN dan mungkin bisa sebagai standarisasi untuk kelulusan tapi mungkin wajar kalau menjadi syarat untuk mendapat pekerjaan.

Masalah sistem pendidikan yang digunakan juga sering berganti. Entah tidak cocok lagi atau gagal, saya juga kurang terlalu paham. Tapi kalau pendapat saya kita ini sejenis dengan kelinci percobaan, jika gagal tidak lulus atau terseok-seok mengejar materi. Dulu kurukulum yang digunakan kurikulum 1994, berubah menjadi kurikulum 1996, berubah lagi menjadi kurikulum 2004, dan yang terakhir KBK eh diganti lagi menjadi KTSP. Pihak pengajar juga pasti bingung dengan perubahan-perubahan sistem tersebut.

Jika ada yang mau belajar pasti ada pengajarnya. Masalah pengajar juga tidak bisa dilepaskan dari permasalahan ini. Jujur saja pengajar saat ini sangat sedikit yang berkompeten, hal ini disebabkan tidak ditrima di jurusan lain, materi yang diajarkannya tidak terlalu dikuasai contohnya si X guru bidang studi pelajaran matematika tapi karena kekurangan guru bidang studi fisika maka si X ini disuruh mengisinya. Lalu tidak semua orang mampu mengkomunikasikan apa yang dibenaknya kepada semua orang dengan baik, hal inilah salah satu penghambat materi sampai ke siswa. Persentase kelayakan pengajar pada tahun 2002-2003 sebagai berikut :
  1. SD    : 21,07% (negeri) dan 28,94% (swasta)
  2. SMP : 54,12% (negeri) dan 60,99% (swasta)
  3. SMA : 65,29% (negeri) dan 64,73% (swasta)
  4. SMK : 55,49% (negeri) dan 58,26% (swasta)
Data tingkat pendidikan para pengajar yang layak dari Balitbang Depdiknas (1998) sebagai berikut :
  1. SD                     : 13,8% lulusan D2 keatas dari 1,2 juta
  2. SMP                  : 38,8% lulusan D3 keatas dari 680 ribu
  3. SMA                  : 57,8% lulusan S1 keatas dari 337.503
  4. Perguruan Tinggi : 18,86% lulusan S2 keatas dari 181.544 (3,48% lulusan S3)
Rendahnya kelayakan ini disebabkan karena kesejahteraan pengajar bisa dibilang cukup rendah, tapi kalau melihat keadaan sekarang sepertinya pegawai negeri lumayan makmur ini bisa jadi daya tarik untuk menjadi pegawai negeri.

Karena infrastruktur yang tidak mendukung, sistem pembelajaran yang cepat berubah, rendahnya kelayakan pengajar dan kurang paham dan tanggapnya siswa menghasilkan rendahnya tingkat prestasi yang dicapai. Bagi yang berpikir mengenai masalah ini, ini semua adalah hasil yang begitu tidak memuaskan. Menurut Trends in Mathematic and Science Study (TIMSS) 2003 (2004), siswa Indonesia di ranking ke 35 dari 44 negara dalam hal matematika, sedangkan dalam hal sains siswa Indonesia di ranking ke 37 dari 44 negara. Hal ini tidak 100% persen salah dari yang saya sebutkan sebelumnya bisa jadi dari pihak siswanya sendiri yang malas untuk mengulang pelajaran, malas membaca buku-buku pelajaran, terlalu banyak main, menghabiskan waktu senggang dengan hal-hal yang tidak berguna bahkan nggak bermanfaat sekalipun, serta jika mereka tidak paham mereka malas bahkan enggan untuk bertanya. Ujung dari semuanya bisa kita tebak... menyonteklah jawabannya.

Apa anda mau lulus dari pendidikan yang anda tempuh sekarang atau yang telah anda tempuh dengan cara ini selama anda menempuh pendidikan...??? Jujur saja ya.. hasilnya yang anda peroleh hanya sedikit sekali.

Salah satu faktor yang juga ambil alih atas kebobrokan ini adalah faktor ekonomi. Kita sering kali melihat anak-anak usia sekolah tapi sudah  mencari uang dipinggir jalan (lihat gambar disamping kanan). Padahal dalam UUD seluruh rakyat miskin menjadi tanggung jawab negara, nyatanya nihil. Tapi pemerintah berusaha dengan program BOS untuk mengratiskan sekolah dari SD, SMP dan SMA. Walau begitu program ini tidak terlalu sukses. Sebab yang mahal justru "embel-embel" dari sekolah itu sendiri, seperti seragam mustahil jika mau sekolah tanpa seragam beratribut lengkap yang ada malah kena hukuman, buku tulis dan alat tulis bahkan sekarang lagi maraknya e-book. Nah ini sangat memberatkan siswa yang tidak memiliki PC karena mereka harus bolak-balik ke warnet dan harga main di warnet tiap jamnya semakin naik dari tahun ke tahun. Duh jadi tambah ribet saja deh... saya yang nulis aja tambah pusing melihat kenyataan ini.

Demikianlah penjelasan mengenai keterpurukan dunia pendidikan di Indonesia. Jika kita menatap ke dunia global sistem kita sangatlah tidak apa-apanya. Padahal pelajaran yang kita pelajari dengan masyarakat Internasional sama tidak ada bedanya. Mungkin perbedaannya adalah semangat dari elemen-elemen dunia pendidikan kita yang kurang.
Akhir kata, saya minta maaf atas kata-kata yang saya tulis ini jika telah menyinggung perasaan pembaca dan atas kurangnya juga. Mudah-mudahan artikel ini bermanfaat bagi kita semua. Amieennnn.....
Wassalamualaikum Wr.Wb.


Sumber :
  • http://melanikasim.wordpress.com/2009/03/08/makalah-masalah-pendidikan-di-indonesia/
  • http://forum.detik.com
  • http://tyaeducationjournal.blogspot.com/2008/04/efektifas-dan-efisiensi-anggaran
  • http://www.detiknews.com
  • http://www.sib-bangkok.org
  • Pidarta, Prof.Dr.Made.2004. Manajemen Pendidikan Indonesia. Jakarta : PT Rineka Cipta
  • http://sayapbarat.wordpress.com/2007/08/29/masalah-pendidikan-di-indonesia

2 komentar:

ryshand mengatakan...

hai juga..
wah kok tau sih hehe
ada kok, tuh di blogroll

thanks atas infonya
nanti saya cek

ok deh.. sekali lagi thanks ya

Unknown mengatakan...

Makasih sob udah share, blog ini sangat membantu saya sekali .......................



bisnistiket.co.id

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...
copyright 2020 by Ryshand.blogspot.com. Diberdayakan oleh Blogger.